sebuah konspirasi
"Entah berapa kali saya menggeser-geserkan kelambu merah disamping kiri saya.
Panas, silau, sesekali gelap
Saya membiarkan mata saya melihat dengan liar gumpalan awan yang memayungi padang ilalang kehijauan, juga hamparan tanah gersang serta perkampungan padat yang hampir melekat dengan rel kereta
Perjalanan kali ini membawa saya ke ibukota, tempat yang selama ini diidentikkan dengan macet,banjir,kriminalitas tinggi apapun yang menyeramkan ada disana, tapi disana pula nampaknya saya akan beradu.
Saya ingin kembali naik kereta ke ibukota lagi, lagi dan lagi. Sebab disana, sedikit demi sedikit mimpi saya mulai gantungkan.
Entahlah, saya mencoba serealistis mungkin namun juga selalu optimis.
Saya telah mengimani Tuhan saya, maka saya juga akan meyakini masa depan saya.
Selama saya berusaha yang terbaik dan berdoa maksimal maka Tuhan akan menuntun saya ke jalan yang telah Ia siapkan.
Yang terbaik kan Tuhan? *tulis saya sambil tersenyum simpul :)"
Itu tulisan saya bulan Agustus 2012 kemaren, yang lagi heboh-hebohnya nyari kerjaan, yang tulisannya saya save di handphone. Itu pas perjalanan naik kereta Taksaka, dari Jogjakarta ke Jakarta. Waktu itu lagi bulan puasa, siang hari lagi laper-lapernya. Apalagi disamping tempat duduk saya ada 2 bocah yang lagi sante gile makan minum seenak udelnya sendiri (*keinget paling gak nahan pas mereka pesen mi rebus, mesti pura-pura tidur sambil baca-baca doa biar gak ngebatalin puasa tapi idungnya tetep bisa mencium aroma bumbu mie dengan dahsyat karena cuma sejarak semeteran daonk*)
Dan walaaaa, nampaknya konspirasi saya dengan Tuhan diberi jawaban. Saya beneran bakalan stay di Ibukota. ini bukan kebetulan tapi ini sebuah jalan yang masih perlu saya pertanggungjawabkan.
Jadi selamat menulis, berkonspirasilah dengan Tuhan!
Panas, silau, sesekali gelap
Saya membiarkan mata saya melihat dengan liar gumpalan awan yang memayungi padang ilalang kehijauan, juga hamparan tanah gersang serta perkampungan padat yang hampir melekat dengan rel kereta
Perjalanan kali ini membawa saya ke ibukota, tempat yang selama ini diidentikkan dengan macet,banjir,kriminalitas tinggi apapun yang menyeramkan ada disana, tapi disana pula nampaknya saya akan beradu.
Saya ingin kembali naik kereta ke ibukota lagi, lagi dan lagi. Sebab disana, sedikit demi sedikit mimpi saya mulai gantungkan.
Entahlah, saya mencoba serealistis mungkin namun juga selalu optimis.
Saya telah mengimani Tuhan saya, maka saya juga akan meyakini masa depan saya.
Selama saya berusaha yang terbaik dan berdoa maksimal maka Tuhan akan menuntun saya ke jalan yang telah Ia siapkan.
Yang terbaik kan Tuhan? *tulis saya sambil tersenyum simpul :)"
Itu tulisan saya bulan Agustus 2012 kemaren, yang lagi heboh-hebohnya nyari kerjaan, yang tulisannya saya save di handphone. Itu pas perjalanan naik kereta Taksaka, dari Jogjakarta ke Jakarta. Waktu itu lagi bulan puasa, siang hari lagi laper-lapernya. Apalagi disamping tempat duduk saya ada 2 bocah yang lagi sante gile makan minum seenak udelnya sendiri (*keinget paling gak nahan pas mereka pesen mi rebus, mesti pura-pura tidur sambil baca-baca doa biar gak ngebatalin puasa tapi idungnya tetep bisa mencium aroma bumbu mie dengan dahsyat karena cuma sejarak semeteran daonk*)
Dan walaaaa, nampaknya konspirasi saya dengan Tuhan diberi jawaban. Saya beneran bakalan stay di Ibukota. ini bukan kebetulan tapi ini sebuah jalan yang masih perlu saya pertanggungjawabkan.
Jadi selamat menulis, berkonspirasilah dengan Tuhan!
Komentar
Posting Komentar