Postingan

antara bulan Februari, cinta dan memasak

Gambar
Selamat bulan Februari rekan sejawat... Bulan cinta, katanya. Memang! Karena pernikahan saya dan suami memang dilangsungkan di bulan Februari ini, hihiiii. Izinkan saya bercerita tentang sekelumit rangkuman dari 3 tahun pernikahan kami, yang alhamdulillah adalah salah satu “best part” dalam hidup saya. Bersyukur sekali bisa menikah dengan orang yang kita cintai. Mengutip dari Sujiwo Tedjo yang pernah menulis bahwa ”Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa.”. Lalu bukankah saya dapat menyimpulkan orang yang menikah dengan orang yang dicintai itu adalah orang yang paling bahagia. Hmmm.... memang ada orang menikah dengan orang yang tidak dicintai?? *sila jawab dengan nurani kalian masing-masing ;p (karena tidak akan saya bahas disini). Bercerita tentang menikah, apalah saya yang baru seumur jagung mencecap mahligai rumah tangga ini dibanding rekan-rekan sekalian pasti yang sudah lebih dari sa...

Belajar dari Kopi

Gambar
Oke untuk memenuhi janji saya di tulisan sebelumnya, saya yang akan bercerita tentang kopi. Bukan, bukan tentang jenis-jenis dan dari mana kopi itu berasal ya? Kalo itu silakan anda googling sendiri. Saya akan menulis tentang kopi yang saya pesan kala itu di Rumah Kopi Ranin. Malam itu saya memesan kopi hitam Mandailing, hanya kopi polos saja tanpa susu bahkan tanpa gula. Sementara pak suami memilih ice capucino, tentu saja capucino tersebut berisi kopi dan campuran susu serta gula sebagai pelengkap jika suka manis. Kami saling mencicipi (oh, saling mencicipi?? Terlihat janggal saudara ya? Maksudnya saya mencicipi ice capucino dan suamipun mencicipi kopi Mandailing yang saya pesan) Dari kopi yang saya pesan saya belajar tentang menghargai selera. Tidak ada yang salah mengenai selera. Banyak di luar sana yang menasbihkan bahwa pecinta kopi hanya eksklusif dan melulu tentang kopi hitam polos. Bagi saya tidak, menikmati kopi bisa dari manapun. Tidak ada yang seharusnya ...

Cerita Malam Minggu

Selamat tahun baru 2018 gaes, lama tak menengok blog ini membuat rasa rindu itu hinggap. Ternyata konsisten menulis itu susah ya?! 2017 masih belum rutin nulis setiap bulan, semoga saja 2018 bisa rutin menulis (gini kok cita-citanya pengen bikin buku, cih!). Cukup ya basa-basinya,,hehehe... Mau cerita tentang malam minggu saya kemaren nih, yang menurut saya cukup berkesan. Mungkin bagi kalian ini terlihat remeh temeh, tapi bagi saya ini menyenangkan. Malam minggu kemaren saya dan suami pergi ke Bogor, udah lama saya gak jalan ke Bogor. Sesimpel itu alasan kami pergi. Berbekal googling tempat ngopi, ketemulah kami pada suatu tempat yakni Rumah Kopi Ranin yang terletak masih di pusat kota Bogor sehingga tidak sulit untuk menemukannya. Jarak Bogor dari rumah kami tidak jauh, mungkin 20 menit saja jika jalanan lancar. Malam itu kami pergi dengan berboncengan sepeda motor, lengkap dengan jaket karena angin malam terlalu jahat dan kami yang sudah terlalu jompo, haha. Kami pergi puku...

Puasa vs Pengeluaran

Wey...ga kerasa udah bulan Ramadhan ya?? Udah masuk hari ke 10 malah, udah bolong puasa berapa hari neh? Yang udah jadi buibuk pasti tiap hari lagi bingung ngatur jadwal menu buka dan sahur ya? Alhamdulillah sejauh ini pak suami bukan type yang rempong soal makanan malahan gak sungkan buat bantuin di dapur juga. Jadi seminggu ini aman lah ya buka di rumah terus. Gak tau deh minggu ini dan berikutnya, hihihiiiii... Ngomongin soal puasa, kenapa ya justru pengeluaran di saat bulan Ramadhan gini cenderung meningkat ketimbang hari biasa? Padahal makannya berkurang, cuma 2 kali sehari aja. Hmmm... coba cek deh makanan apa yang kita makan pas puasa, biasanya lebih mevvah gak sih? Gak mewah mewah banget sih, tapi jadi lebih berwarna aja. Di hari biasa mana ada kita bikin kolak pisang, es buah atau apalah-apalah itu? Makan cenderung yang biasa aja, ya nasi, lauk, dan sayur. Kalo puasa kita jadi seolah-olah “mewajibkan” harus (udah wajib, harus lagi... ini namanya pemborosan kata lila!)...

JOGJA ISTIMEWA

Gambar
Yeaaay...seneng ya abis liburan tuh.! Jadi makin hepi aja bawaanya. Setelah sekian lama direncanakan, walaupun meleset dari tujuan semula yang maunya ke Malang, tapi liburan ke Jogja itu kece juga kok. Banyak wisata baru di Jogja yang kalo kata anak sekarang sih instagramable. Berbekal aplikasi waze dan juga google map, sampailah juga saya dan suami ke Jogja. Alhamdulillah banyak saudara di Jogja, jadi banyak tempat untuk bisa ditebengin nginep. Selain untuk menjalin silaturahim juga bisa dibilang irit budget ya :) *walaupun banyak juga penginepan di Jogja yang ramah di kantong.  "contoh yang minta tolong dipotoin orang" Biar ala-ala travel blogger nih ceritanya, jadi saya mau nyeritain beberapa tempat wisata yang saya kunjungi di Jogja minggu lalu. Hari pertama karena masih capek banget, kita malam harinya cuma mampir beli nasi goreng kambing Kota Baru yang emang sudah saya impi-impikan sejak lama. Menjelang tengah malam mampirlah ke angkringan dan pesan jahe susu, o...

Libur Banyak Berbanding Lurus dengan Banyaknya Pengeluaran

Gambar
Siapa yang pengeluarannya tiap week end justru leih banyak ketimbang week days hayo?? Hampir dari kita semua gak sih yang ngerasain hal itu?  Kalau week days kita bisa “menahan” dengan makan yang es te de aja alias standar, tapi kalau week end biasanya justru kita dendam dan banyak menghabiskannya dengan nongkrong-nongkrong cantik, dengan budget sekali makan pasti diatas seratus ribu lah ya... Gak salah kok emang menyenangkan diri sendiri itu. Tapiii mesti tahu ngeremnya juga ya gaes!   Boleh-boleh aja kok jajan di mall, makan di cafe yang mahal. Semua itu saya sebut kebutuhan tertier, yaitu bisa dilakukan ketika kebutuhan primer dan sekunder kita tercukupi. Boleh ngopi yang seharga lima puluh ribuan itu tapi ketika udah bayar cicilan rumah, listrik, atau apapun yang menjadi kebutuhan pokok kita. (tapi kalo ngopi jadi kebutuhan pokok kalian, bebas aja yha!). Ribet ya kesannya mau ngopi aja?? Eits, saya lebih suka ribet sekarang daripada nanti pas masa tuanya saya masih bi...

Kampung Halaman

Beberapa hari yang lalu saya dan suami pulang kampung ke Lampung, rumah orang tua suami tepatnya. Kampung halaman entah selalu mempunyai cerita. Walaupun bukan kampung asal saya, saya mencoba menikmati Lampung dengan cara sendiri. Saya dan suami sepakat untuk mencoba "melebur" dengan kampung halaman kami. Saya mencoba merasa “pulang” ketika ke Lampung, dan suami pun sebaliknya  merasa “pulang” ketika ke Madiun. Entah perasaan saya saja, atau ada yang akan mengaminkan juga bahwa makanan yang dimakan di rumah mempunyai cita rasa yang lebih enak. Sekalipun kita hanya makan dengan lauk tahu, tempe, ikan asin dan, sambel terasi (*tunggu-tunggu saya harus menelan ludah membayangkan lauk-lauk itu). Kalau kata pak suami sih, karena dimasaknya dengan penuh cinta dan kasih oleh seorang Ibu. Mungkin itu menjadi bumbu yang mebuat makanan apapun menjadi terasa lebih lezat. Menurut saya mungkin juga karena suasana yang mendukung sih! Suasana rumah yang tenang, diiringi canda tawa dengan...