antara bulan Februari, cinta dan memasak

Selamat bulan Februari rekan sejawat...
Bulan cinta, katanya. Memang! Karena pernikahan saya dan suami memang dilangsungkan di bulan Februari ini, hihiiii. Izinkan saya bercerita tentang sekelumit rangkuman dari 3 tahun pernikahan kami, yang alhamdulillah adalah salah satu “best part” dalam hidup saya. Bersyukur sekali bisa menikah dengan orang yang kita cintai. Mengutip dari Sujiwo Tedjo yang pernah menulis bahwa ”Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa.”. Lalu bukankah saya dapat menyimpulkan orang yang menikah dengan orang yang dicintai itu adalah orang yang paling bahagia. Hmmm.... memang ada orang menikah dengan orang yang tidak dicintai?? *sila jawab dengan nurani kalian masing-masing ;p (karena tidak akan saya bahas disini).

Bercerita tentang menikah, apalah saya yang baru seumur jagung mencecap mahligai rumah tangga ini dibanding rekan-rekan sekalian pasti yang sudah lebih dari saya ini. Tapi mungkin saya akan menceritakan salah satu bagian yang tak lepas dari perjalanan cinta kami (halah..). MEMASAK, mengapa saya capslock kata memasak? Karena dari kata itulah saya belajar untuk memahami sebuah rumah tangga. Mendapat gambar dari media sosial, yang bertuliskan “Mengapa istri harus pintar masak? Ini kan Rumah Tangga, bukan Rumah Makan”, saya merasa tergelitik.
Akhir-akhir ini, ya saya ulangi sekali lagi, akhir-akhir ini saya baru saja senang memasak. Menurut saya hal tersebut adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Jujur saya adalah pemalas sejati yang gak suka ribet. Jadi memasak menurut saya dulu, adalah hal yang ribet. Kan bisa aja kita beli, simpel gak capek dan gak berantakin dapur. Suami juga alhamdulillah nerima aja, walopun gak tau dalam hatinya gimana ya.  Mau memasak bagi saya adalah tentang menurunkan ego, bayangkan si anak manja ini yang belasan tahun hidupnya dibantu oleh seorang ART. Dimana dulu segala sesuatunya sudah siap di depan mata dan di depan mulut, kemudian saat menikah harus berbalik menjadi orang yang menyiapkan. Sungguhlah teman, ini proses yang tidak mudah bagi kami, khususnya saya.
Alhamdulillah, suami pun mau berkali-kali lipat menurunkan egonya untuk tidak risih melakukan hal-hal yang dianggap tabu bila dijalankan oleh seorang laki-laki. Walaupun memang jika mencontoh almarhum ayah saya dulu, beliau juga kerap membantu ibu dalam urusan rumah dan bapak merupakan koki yang handal, yang masakannya paling enak sedunia. Tapi saya yakin, tidak banyak laki-laki yang mau melakukan pekerjaan “perempuan” itu. Bersyukur sekali lah punya suami yang ususnya panjang (baca: sabar banget), gak pernah nuntut yang aneh-aneh ke saya. Ngenasihatinnya juga dengan cara yang halus, pas lagi makan suka dipuji (entah bokis atau enggak ya), suka ditanyain mau pahala banyak atau enggak? Kalo mau ya salah satunya dengan masak, pahala dari capeknya masak dapet dan suami senang karena kenyang juga dapet pahala. Kalo masak kan juga bisa hemat, uangnya bisa ditabung dan bisa dipakai belanja online shop (oke, yang terakhir itu saya memang ngarang sih!hahahaaa).
Lambat laun entah darimana keinginan itu muncul dan saya sadari dengan penuh ikhlas untuk lebih sering lagi memasak. Kalo dulu mungkin 2-3 kali seminggu memasak, rasanya akhir-akhir ini 4-5 kali dalam seminggu saya bisa memasak. Doakeun bisa istiqomah! Memasak itu bukanlah soal bisa atau tidak bisa, tapi soal mau atau tidak mau. Saya tidak sedang menyindir siapapun di tulisan ini, murni sepenggal perjalanan saya yang ingin saya bagikan.
Ini bukan soal makanan yang enak, karena ini rumah tangga bukan rumah makan kaya tulisan di atas, tapi terlebih ialah soal menghargai sebuah proses. Saya juga belom jago-jago amat kok dalam hal memasak, suami mau makan dengan riang gembira aja udah bahagia. Saya menghargai suami yang mau dimasakin ala kadarnya dan suami juga menghargai jerih payah saya di dapur. Pernikahan itu seperti mempunyai partner, yang setiap hari diisi dengan penyesuaian. Dan pernikahan tidak sesimpel yang dibayangkan, bukan hanya soal memasak saja. Jauh lebih dari itu, oleh karena itu saya mengidolakan mereka yang awet-awet dalam menjalin hubungan rumah tangganya dan menghormati pula orang-orang yang sampai detik ini belum memutuskan untuk berumah tangga. Berumah tangga itu menyenangkan, tapi bukan berarti didalamnya tidak ada masalah. Menikahlah ketika kalian ingin dan merasa siap, bukan dorongan orang tua, teman atau orang-orang sekitar yang nantinya tidak akan bertanggung jawab atas kelangsungan kehidupan kalian. *ebusyeeeet, kesambet apa nih saya??


Jadi mau masak apa hari ini buibuuuuu???? Salam cinta dari saya yaa... Selamat 3 tahun pernikahan buat pak suami :*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

'gething-nyanding'

HADIAAAAAAH

Dirgahayu Mas Egiiiii