Kampung Halaman

Beberapa hari yang lalu saya dan suami pulang kampung ke Lampung, rumah orang tua suami tepatnya. Kampung halaman entah selalu mempunyai cerita. Walaupun bukan kampung asal saya, saya mencoba menikmati Lampung dengan cara sendiri. Saya dan suami sepakat untuk mencoba "melebur" dengan kampung halaman kami. Saya mencoba merasa “pulang” ketika ke Lampung, dan suami pun sebaliknya merasa “pulang” ketika ke Madiun.

Entah perasaan saya saja, atau ada yang akan mengaminkan juga bahwa makanan yang dimakan di rumah mempunyai cita rasa yang lebih enak. Sekalipun kita hanya makan dengan lauk tahu, tempe, ikan asin dan, sambel terasi (*tunggu-tunggu saya harus menelan ludah membayangkan lauk-lauk itu). Kalau kata pak suami sih, karena dimasaknya dengan penuh cinta dan kasih oleh seorang Ibu. Mungkin itu menjadi bumbu yang mebuat makanan apapun menjadi terasa lebih lezat. Menurut saya mungkin juga karena suasana yang mendukung sih! Suasana rumah yang tenang, diiringi canda tawa dengan saudara juga menambah cita rasa makanan itu tadi.

Kami sebagai warga perantauan, pulang ke kampung halaman adalah sebuah momen yang paling ditunggu. Membayangkan setiap kali lebaran, dengan tiket yang tidak murah, suasana yang ramai dan macet (baik di darat, laut dan udara), itulah harga yang mesti kita tanggung demi berjumpa dengan keluarga besar di kampung halaman. Berbahagialah kalian yang mempunyai kampung halaman, setidaknya ada tempat lain selain rumah tinggal untuk dirindukan keberadaannya. Kampung halaman selalu mempunyai nilai magis untuk memanggil kita kembali dan kembali lagi. Seberapa kalipun kita pulang ke kampung halaman rasanya tidak akan pernah bosan.

Sebab kampung halaman berisi lengkungan senyuman, hangat dekapan dan kenangan masa kecil yang lekat dalam ingatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

'gething-nyanding'

HADIAAAAAAH

Dirgahayu Mas Egiiiii