Soal Tempat Tinggal
Well,, ngomongin soal rumah. Bukan,
bukan rumah yang dengan DP 0% ataupun Rp 0,- itu. Tapi rumah yang sanggup kamu
beli walau tidak serta merta secara cash tapi harus berjibaku membayar angsuran
lewat KPR.
Beberapa hari yang lalu saya
membaca cuitan dari bang poltak hotradero, (dia adalah salah satu alasan saya untuk
tetap setia membaca twitter, banyak ilmu yang saya dapat dari dia). Bang poltak
menulis “Tinggalah di rumah yang kamu mampu. Bukan yang kamu mau.” Menarik, bagi
saya yang baru setahun menjalani KPR rumah. Perjuangan bagi sepasang PNS yang
harus berjibaku mencari rumah yang kami anggap “cocok” baik dari segi harga
ataupun alasan-alasan klasik lainnya (misal dekat dengan akses transportasi,
sekolah, atau pasar). Yang tentu saja letaknya tidak di Jakarta, kami harus
cukup tahu diri untuk membeli rumah di pinggiran Jakarta (but, hey setengah jam
doang kok Depok kalau ke Jakarta naik KRL :p ).
Membeli rumah bukan tentang
sok-sokan karena biar kamu dianggap "punya rumah". Bayangkan saja konsekuensinya,
berapa rupiah yang akan kamu tanggung tiap bulannya untuk mencicil dan
berapa waktu yang kamu butuhkan untuk sanggup melunasinya, sebut saja 10 tahun,
15 tahun, atau bahkan 20 tahun baru kamu akan benar-benar merasa memiliki rumah itu secara penuh. Membeli rumah kalo kata orang dulu
juga soal jodoh-jodohan, kita bisa saja jatuh cinta dengan sebuah rumah tapi
kalau memang belum jodoh bisa saja gak kesamapain untuk menempatinya. Eh, boro-boro menempati, membelinya saja juga belum tentu kesampaian.
Entah seperti prinsip ekonomi yang mengatakan jika permintaan naik, harga akan naik, maka permintaan akan
kebutuhan rumah yang terus naik akan selalu diikuti dengan lonjakan harga rumah yang
tiap senin bisa saja akan terus naik *kalau kata iklan yang sering kita dengar
di televisi sih gitu. Saya cukup awam dengan ilmu ekonomi yang dengan pola bagaimana atau
alasan apa sehingga mengakibatkan harga rumah terus melambung. Yang jelas bagi kita kelas menengah ini, kita CUKUP dibuat PUSING jika harus membeli rumah.
Menjadi dewasa saat ini ialah
menjadi orang yang realistis, sebenarnya pada kemampuan mana yang sanggup kamu
jalani. Jangan pernah membohongi diri sendiri, mungkin orang lain bisa kamu bohongi tapi sejauh mana kita bisa bertahan untuk membohongi diri sendiri?
Entah sebatas menyewa atau membeli rumah tentu masing-masing orang atau keluarga punya matematika untuk menghitungnya sendiri dan itu selalu patut dihargai.
*Salam dari PNS yang cicilan rumahnya tinggal 14 tahun lagi, Wahihihiii...
Entah sebatas menyewa atau membeli rumah tentu masing-masing orang atau keluarga punya matematika untuk menghitungnya sendiri dan itu selalu patut dihargai.
*Salam dari PNS yang cicilan rumahnya tinggal 14 tahun lagi, Wahihihiii...
Komentar
Posting Komentar