Menjalankan Bosan
Sore itu seperti biasanya
saya pulang dengan menumpangi mikrolet 44 dari Jalan Baru menuju Stasiun Tebet.
Saat itu sedang gerimis, saya dan suami memilih duduk di samping pak Supir yang sedang bekerja mengendara kuda (lah nyanyi malah). Iseng
saya ngobrol dan bertanya ke suami saya lirih, “Kira-kira bosan gak ya Supir
mikrolet ini setiap hari melakukan hal yang sama, memutari kampung melayu
sampai karet?”. Suami saya hanya tersenyum lalu dia berkata “Apa bedanya dengan
kita? Setiap hari kita juga melakukan aktivitas yang sama, bangun pagi,
berjibaku di KRL, lalu berebut mikrolet dan terus bekerja di kantor, pulang dan
esoknya juga melakukan aktivitas yang sama.” Saya lalu menggumam dalam hati,
memang iya kita melakukan hal yang sama setiap hari dan mungkin bagi sebagian
orang terlihat membosankan tapi atas
nama kehidupan yang ingin tetap berjalan kita mengenyampingkan rasa “bosan” itu
tadi.
Kita lebih memilih bosan
dengan bekerja ketimbang bersantai namun tak menghasilkan apapun. Jangan bilang
lebih enak bersantai dan menghasilkan sebab itu tidak ada dalam pilihan. Dari obrolan
yang cukup singkat ini kemudian saya bersyukur atas semua kebosanan yang saya
alami (berdesakan setiap hari di KRL, mencium berbagai aroma tubuh yang di KRL,
dan kadang-kadang mesti berakrobat mengerjakan pekerjaan kantor walau memang
tak setiap hari), bahkan Pak Supir pun juga akan mengaminkan bahwa kebosanan
harus tetap dijalankan (bahwa keringat yang menetes tiap harinya dan rasa lelah
yang mungkin menggelayut akan terbayar dengan mengepulnya asap dapur, anak-anak
yang bisa bersekolah tinggi, atau sang istri yang masih bisa ikut arisan walau
sekadar panci).
Komentar
Posting Komentar