Sedikit tentang Maratua

Alhamdulillah diberikan kesempatan untuk menjejakkan kaki di salah satu pulau terluar Indonesia, yaitu Pulau Maratua. Dari Balik Papan perjalanan dilanjutkan lagi ke Berau melalui perjalanan udara, kemudian masih sekitar 3 jam melewati sungai dan lautan menuju Maratua. Maratua yang artinya mertua merupakan salah satu salah satu destinasi wisata Indonesia di Kalimantan Timur selain Derawan dengan keindahan bawah lautnya.

Walaupun hanya semalam kami di Maratua tapi setidaknya waktu yang cukup singkat itu kami pergunakan dengan sebaik-baiknya. Pukul 06.30 boat melaju dari Tanjung Redeb, Berau menuju ke Maratua. Cuaca nampak kurang bersahabat walaupun kami sudah merasa akrab :p ,09.27 kami sampai di Maratua setelah 1 jam terakhir kami diajak “bergoyang” di lautan. Maratua menyambut kami dengan hujan deras.

Setelah membersihkan diri sekadarnya, tak sabar kami menuju bibir dermaga untuk mengabadikan lukisan Tuhan tersebut. Tuhan begitu luar biasa melukis alam di pulau ini dengan laut yang jernih sehingga ikan dan terumbu karang bisa kita lihat hanya dengan mata telanjang, langit yang menghitam seketika berganti dengan kebiruan disisipi terik matahari yang masih terlihat malu-malu. Hari ini seakan Tuhan mengajak bicara bahwa setelah “badai” melanda pasti akan ada sesuatu yang indah.


Menuju sore kami beranjak menuju Kakaban untuk merasakan sensasi berenang dengan ubur-ubur. Ubur-ubur di Kakaban ini tidak menyengat, jadi aman jika kita berenang disekitarnya. Konon ubur-ubur yang tidak menyengat hanya ada di 2 negara yaitu di Indonesia dan Palau. Medan yang dilalui menuju danau relatif lebih mudah karena sudah dibuat anak-anak tangga dari dermaga menuju ke danau tersebut meski harus naik turun. Wisatawan asing pun juga sudah cukup banyak yang berkunjung ke Kakaban ini.



Keesokan paginya pukul 05.30 kami sudah bersiap kembali menuju Berau, namun tampknya alam mengajak kami “BERCANDA” LAGI. Air laut justru masih pasang, langit gelap dan hujan pun datang. Padahal kami mesti berpacu dengan waktu, sebab jadwal pesawat menuju Balikpapan ialah pukul 10.45 dan perjalanan laut masih mesti ditempuh selama 3 jam.




Karena keselamatan jauh lebih utama menunggu menjadi pilihan yang masuk akal, walau dengan perasaan gelisah. 06.20 kapal kami baru berani bergerak, 2 kapal kecil yang memuat 15 orang dan 1 kapal agak besar yang memuat 30an orang. Di tengah laut tidak ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi, hujan badai datang dan ombak semakin terasa naik turun menggoyang-goyang kapal. Sekali lagi kami hanya bisa pasrah. Kapal sedikit memutar menghindari badai, 1 kapal menepi tidak berani melanjutkan perjalanan dan menunggu tenang. Pukul 10.00 dengan perasaan lega kami melihat daratan Berau juga. Walaupun rombongan harus berpencar, karena 2 kapal kecil tidak bisa mengejar pesawat menuju Balikpapan dengan penerbangan pukul 10.45. Dan pukul 14.00 sebagian rombongan pun sampai Jakarta lagi (DENGAN SELAMAT).

Terima kasih Maratua telah menyajikan sensasi yang luar biasa...
*photo-photo yang lain bisa lihat di ig saya yak *promosi *namanya juga usaha

Komentar

Postingan populer dari blog ini

'gething-nyanding'

HADIAAAAAAH

Dirgahayu Mas Egiiiii