tentang pasangan
Sebenernya pengen nulis tentang
anniversary yang ke 2 kemaren sih, apalagi tanggal perkawinan kami memang tepat jatuh
di bulan Februari yang konon katanya disebut bulan cinta. Tapi kok kayanya
terlalu menye-menye banget, hahaha... Geuleuh sendiri mau nulisnya *__*
Sedikit tentang memperingati 2
tahun pernikahan, malam sebelum hari H saya bilang ke suami supaya dikasih
kejutan. (Kejutan macam apa ini, kok pakai minta segala?? Hahahaaa..). Ya karena kami memang bukan termasuk golongan
pasangan unyu-unyu ala selebgram abege gitu.
Pagi itu tanggal 21 Februari 2017
hujan deras, saya sudah rapi jali dan siap berangkat ke kantor, tapi lihat TL
di twitter banyak yang bilang Jakarta pada banjir sayapun undur diri gak masuk kantor saja, (asli modus bener ini). Sementara pak suami
ada dinas di luar kantor yang harus dilaksanakan. Tik tok tik tok, waktu terasa
lama sekali kalau sendirian cengok begini dan saya hanya bermalas-malasan saja di rumah, sementara jam sudah
menunjukkan pukul 14.00 dan pak suami tak kunjung tiba. Taraaaa... jam 14.30
pak suamipun datang dengan membawa seonggok bunga mawar (yaelah kok seonggok
sih?!). Senang! Tapi ya sebatas sampai senang aja, gak merasa wow atau gimana
gitu kaya ekspresi cewek-cewek di ftv pas dikasih gebetannya bunga.
Diam-diam saya berpikir, apa ada yang salah kalau kita gak suka dikasih bunga atau hal-hal romantis lainnya. Dikasih perhiasanpun saya gak suka. Bahkan mahar waktu pernikahan saya lebih memilih untuk dibelikan “logam mulia” dibandingkan perhiasan. Mungkin kita lupa bahwa tidak semua yang dilakukan orang lain juga pantas dan nyaman jika kita lakukan sendiri. Beragam cara yang dilakukan dalam mengekspresikan cintanya. Ada yang lewat bunga, puisi, pujian, dan yang lainnya. Kalau saya amati, cara suami saya mengungkapkan cintanya pada saya ya dengan tindakan seperti secara suka rela berjibaku di dapur dan tulus ikhlas mengerjakan pekerjaan remeh temeh di rumah. Kemudian saya menjadi tidak ingin lagi dibelikan bunga. Oooh, terimakasih pak suami!!! Tidak banyak lelaki yang sudi menurunkan egonya untuk menjalankan pekerjaan yang biasanya dilakukan wanita. Sekali lagi terima kasih walaupun saya masih suka ngomel-ngomel yaaa.
"Manusia memang selalu memandang rumput tetangga yang nampak lebih hijau, padahal lupa kalau dirinya sedang berada di gurun..."
*ditulis sambil menertawakan diri sendiri
Komentar
Posting Komentar